Menjalani Kehamilan di Belanda Bag. 4 – Tidak Diberi Obat, Jarang USG, dan Tidak Banyak Dilakukan Tes

Ini adalah bagian terakhir dari seri tulisan Menjalani Kehamilan di Belanda. Tulisan ini sepertinya menjadi tulisan yang paling panjang dari 3 bagian lainnya. Di tulisan ini, saya ingin bercerita tentang, apa yang saya sebut, kenaturalan kehamilan di Belanda, yang saya rasakan selama 37 minggu ini : tidak ada obat-obat dari bidan, usg yang jarang, dan tidak banyak dilakukan tes-tes terkait kehamilan.


Tidak diberi obat-obatan maupun vitamin, juga tidak ada pantangan makanan

Berangkat dari filosofi orang Belanda bahwa kehamilan adalah suatu proses yang natural, maka jangan berharap Anda akan diberi obat-obatan oleh bidan. Selama 37 minggu masa kehamilan saya, saya hanya direkomendasikan untuk mengkonsumsi 3 jenis vitamin, yaitu Vitamin D, Asam folat, serta suplemen zat besi. Itu pun bidan tidak sembarangan memberikan rekomendasi, tetapi mereka merekomendasikan vitamin tersebut setelah melihat kadar vitamin D serta kadar zat besi saya cukup rendah.

Selain itu, mereka hanya merekomendasikan, tidak menjual apalagi memberikan vitaminnya. Pasien harus membeli sendiri di toko obat. Jadi, mereka hanya menyebutkan suplemen apa yang kita butuhkan, serta batas dosis yang harus kita konsumsi. Mengenai merek vitaminnya apa, itu terserah kepada pasien.

Suatu hari, saya pernah bertanya kepada bidan saya, apakah saya perlu mengkonsumsi suplemen omega 3. Bidan saya berkata tidak perlu. Yang penting adalah kita makan berbagai varian makanan sehingga seluruh kebutuhan gizi saya dan janin saya bisa terpenuhi dari makanan tersebut. Tidak ada pantangan makanan yang diberikan oleh bidan. Yang utama adalah makanan tersebut variatif, tidak itu-itu saja setiap harinya.

Setelah saya pikir-pikir, tidak heran mengapa bidan bilang tidak ada pantangan makanan. Lah, di Belanda makanannya kan cuma gitu-gitu aja. Ga ada jeroan, santan kental, mecin, gorengan, apa pun lah yang kolesterol tinggi. Coba di Indonesia, pantangan saya pasti banyak tuuhh. 😀


USG hanya dilakukan di kondisi-kondisi tertentu, tidak di setiap kontrol rutin

Kalo denger dari cerita teman saya, tiap kontrol ke dokter pasti di-USG jadi bisa liat dedek bayinya tiap saat, bisa tau perkiraan berat bayi ketika lahir berapa, bahkan bisa USG 3D pula. Nah, lagi-lagi, jangan harap disini bisa seperti itu. USG hanya dilakukan di kondisi-kondisi khusus saja, dengan tujuan yang jelas, bukan hanya sekadar mengecek kondisi umum si bayi. Itu pun USG nya hanya USG 2D saja. Hingga usia 37 minggu ini saya hanya melakukan USG beberapa kali saja, hanya dalam hitungan jari, lebih tepatnya hanya 6 kali di saat-saat berikut ini:

  1. Minggu ke 8, di pertemuan pertama dengan bidan

USG dilakukan untuk memastikan embrio berada di dalam rahim, bukan berkembang di luar rahim. Juga untuk memastikan ada atau tidaknya detak jantung bayi.

  1. Minggu ke 9, menentukan usia janin

USG dilakukan untuk menghitung usia janin melalui pengukuran janin. USG ini tidak dilakukan di praktek bidan, melainkan di Prenatal Center.

  1. Minggu ke 11, sebagai bagian dari Down Syndrome Screening

Sebenarnya, DS Screening ini tidak wajib, tidak pula ditanggung asuransi. Tapi, saya tetap menjalaninya. Ini juga saya baru tau ketika di Belanda bahwa ada screening seperti ini. Penjelasan tentang DS Screening ini saya jelaskan di bagian terpisah. USG ini juga tidak dilakukan di praktek bidan, melainkan di Prenatal Center.

  1. Minggu ke 20, Anomaly Scan

Di USG ini udah bisa keliatan bayinya cewe apa cowo. Tapi, sebenarnya inti dari USG ini adalah melihat kelengkapan anatomi tubuh janin, mengecek apakah janin memiliki cacat fisik bawaan, serta posisi plasenta. Sama seperti USG ke-2 dan ke-3, USG ini juga dilakukan di Prenatal Center.

  1. Minggu ke 32, melihat posisi plasenta

Tidak semua pasien melakukan USG di minggu ke-32 ini. Saya melakukan USG ini karena ketika USG minggu ke-20, diketahui bahwa posisi plasenta agak di bawah, sehingga diperlukan USG lagi di trimester ketiga untuk mengecek bagaimana posisi plasentanya sekarang. Lagi-lagi, USG ini juga dilakukan di Prenatal Center.

  1. Minggu ke 35, melihat posisi janin (apakah kepala janin sudah di bawah atau belum)

Ini adalah USG terakhir saya. Kali ini, USG dilakukan di praktek bidan, untuk melihat posisi kepala janin. Alhamdulillahnya, kepala bayi saya sudah di bawah.


Lalu, bagaimana cara bidan mengecek kondisi janin di dalam perut?

Jadi, kalo disini, untuk mengecek kandungan, bidan melakukan external measurement, mulai dari pengukuran fundal height, yaitu panjang dari pubic bone hingga ujung rahim ibu. Ukuran fundal height ini, yang dinyatakan dalam satuan centimeter, berkolerasi dengan ukuran minggu kehamilan bayi. Misal, ketika usia janin 33 minggu, maka ukuran fundal heightnya berkisar di 32-33 cm. Well, tidak tentu sih, saya sendiri ukurannya selalu 1 cm kurang dari usia kehamilan saya, tapi kata bidannya masih normal kok. Setelah itu, si bidan akan meraba-raba perut si ibu. Dari sini sebenarnya bidan sudah bisa mengetahui bagaimana posisi bayi dalam perut, dan yang terakhir adalah mendengarkan detak jantung bayi dari alat Doppler.

Dari external measurement seperti itu, apabila bidan menemukan perkembangan yang dirasa janggal, seperti ukuran yang tidak dalam batas normal, detak jantung bayi tidak terdengar, atau si ibu merasakan keluhan yang cukup mengganggu, barulah USG dilaksanakan. Tapi, sejauh ini saya normal-normal saja. Alhamdulillah.


Tes terkait kehamilan tidak dilakukan di tempat Praktek Bidan, melainkan di Prenatal Center atau di rumah sakit

Yang ada dalam bayangan saya adalah, ibu hamil pastilah akan mengalami serangkaian tes intensif selama 9 bulan ia mengandung untuk melihat kondisi ia dan bayinya. Tapi, ternyata di Belanda ini, saya hanya 5 kali menjalani tes intensif, yang mana keseluruhan tesnya tidak dilakukan di praktek bidan, namun di Prenatal Center maupun di Rumah Sakit. Tes yang saya jalani adalah:

  1. Blood screening
  2. Down syndrome screening
  3. 20weeks ultrasound – the anomaly scan
  4. Glucose test
  5. Blood screening for blood with Rhesus c-

Terdengar agak ribet karena kalo mau tes mesti ke tempat lain lagi? Mmm, pada pelaksanaannya, saya tidak pernah merasakan keribetan apa pun meski harus melakukan tes di tempat lain. Tes 1-3 saya lakukan di Prenatal Center bernama De Look. Cukup dengan registrasi awal dan membuat janji via telepon, maka saya tinggal datang ke De Look membawa referral form yang sudah diberikan oleh bidan saya sebelumnya. Registrasi hanya dilakukan ketika kita pertama kali tes. Jadi, untuk tes selanjutnya, kita cukup telepon saja dan sebutkan nama, data diri kita sudah ada di dalam database mereka, setelah itu dilanjutkan dengan menentukan waktu pelaksanaan tes.

Untuk Tes ke 4 dan ke 5, dilakukan di Reinier de Graaf Hospital (RdGG). Sama seperti ketika hendak melakukan tes di De Look, untuk melakukan tes di RdGG kita harus melakukan registrasi dan buat perjanjian terlebih dahulu. Perjanjian bisa dibuat melalui telepon, sementara untuk melakukan registrasi harus dilakukan di rumah sakit. Bagaimana prosedurnya? Dijelaskan di postingan terpisah yaa.


Lalu, bagaimana dengan hasil tesnya?

Bagian yang paling menyenangkan adalah, kita tidak perlu repot-repot menunggu hasil tes tersebut kemudian membawanya sendiri ke bidan kita. Kalo disini, kita cukup datang untuk melakukan tes tersebut. Setelah selesai tes dilakukan, kita tinggal pulang.

Lalu bagaimana dengan hasil tesnya? Baik tes yang dilaksanakan di De Look maupun di RdGG, keseluruhan hasil tes secara otomatis dikirimkan ke bidan. Jadi, entah kapan si bidan menerima hasilnya, yang jelas, ketika kontrol selanjutnya, si bidan sudah mengetahui hasil dari tes kita tersebut. Ketika kita kontrol, kita tidak perlu repot memberikan serangkaian hasil tes ke si bidan yang seringnya kita tidak mengerti apa maksudnya. Cukup menunggu bidan berkata, “Yeah, I’ve already receive your screening results, and bla bla bla…” Kita cukup mendengarkan penjelasannya saja. So simple.

Untuk beberapa tes yang tidak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan hasilnya, misalkan seperti 20 weeks ultrasound, saya pun bahkan diberikan salinan hasil ultrasound oleh Prenatal Centernya. Ketika diberikan itu, awalnya saya pikir itu harus saya berikan kepada bidan. Ternyata, ketika tiba di bidan, kata dia itu adalah salinannya untuk pasien. Si bidan sendiri sudah dikirimkan sendiri hasil tes nya. No ribet.


Itu lah garis besar perjalanan kehamilan saya selama di Belanda ini. Sebenarnya ada lagi penjelasan tentang Kraamzorg yang menjadi salah satu sistem yang sepertinya hanya ada di Belanda saja, namun saya akan menjelaskannya di tulisan terpisah yaa.

Dari pengalaman saya, terasa betul bahwa di Belanda ini perlakuan terhadap ibu hamilnya dijaga agar tetap dalam koridor natural process. Terlihat dari jarangnya diberi obat-obatan, serta minimnya penggunaan peralatan medis, bahkan USG 2D pun jarang. Bahkan, untuk proses melahirkan nanti mereka sangat meng-encourage kelahiran secara normal dan tidak menggunakan medical pain relief, serta sangat pro menyusui. Menurut saya ini cukup menarik dan bisa ditiru ya, karena bagaimanapun juga sesuatu yang berjalan secara alami itu lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s