31 week – Little flashback from 1st trimester

Minggu ke 31

Sabtu, 24 Desember 2016

Hari sabtu adalah hari dimana usia kehamilan saya tepat bertambah satu minggu, dan di sabtu pertama di musim dingin kali ini usia kehamilan saya tepat berumur 31. Sudah hampir memasuki bulan ke-8 kehamilan.

Di minggu ke-31 ini, saya ingin sedikit bercerita flashback ke belakang, yang kemudian saya bandingkan dengan kondisi saya saat ini.


Di trimester pertama kehamilan

Banyak orang bilang, masa kehamilan adalah masa dimana seorang wanita merasa sangat berbahagia. Berdebar-debar mengetahui akan ada separuh dari dirinya (dan separuh lagi dari diri pasangannya) hidup di dalam rahimnya. Betapa wanita akan bersinar ketika dia sedang hamil. Perasaannya selalu bahagia, senang, dan memancarkan cinta. Kurang lebih seperti itu lah gambaran yang saya ketahui dari membaca di beberapa artikel.

Dan, ketika saya awal kehamilan, di trimester pertama, saya tidak percaya akan hal itu.

Sungguh, saya merasa itu semua bohong belaka. Ketidakpercayaan saya itu sungguh sangat berdasar. Saya mengalami apa yang namanya morning sickness yang cukup parah. Oh, bukan, nama yang saya alami bukan lah morning sickness tapi saya sebut dengan all day sickness. Berat badan saya turun drastic 11 kg dari 56 kg sebelum hamil menjadi 45 kg di minggu ke-8 kehamilan. Sungguh, apa yang saya alami selama trimester awal ini sungguh tidak enak. Membuat saya berpikir, mana ada sih orang yang bahagia di tengah kesakitan seperti ini? Berlebihan semua yang ditulis di artikel itu. Itulah pikiran saya ketika trimester pertama kehamilan.

Separah apa sakit yang saya derita? Mungkin ini bisa sedikit menggambarkan.

Kalau morning sickness hanya di pagi hari, maka saya merasakan mual dan muntah di sepanjang hari, dari bangun tidur hingga hendak akan tidur. Saya tidak bisa makan nasi. Mencium bau nasi yang baru matang saja sudah mual, dan ketika makan nasi saya langsung muntah. Bau bawang dan bumbu dapur lain saya tidak tahan. Pasti muntah. Bawaannya lemas, hingga sepanjang hari saya hanya bisa terdiam, rebahan, paling maksimal baca buku sebentar atau bermain telepon genggam.

Tidak heran berat badan saya turun drastis. Semua lemak-lemak yang dulu tertabung di seluruh tubuh (perut, lengan, paha, leher) dimakan semua oleh si bayi. Kalo kata bidannya, “yeah, the baby takes what he needs.” Exactly. Baru kali itu saya berterimakasih dengan lemak-lemak yang menumpuk di tubuh saya, terutama yang ada di perut. Karena saya tidak bisa makan apa-apa, akhirnya lemak-lemak inilah yang menjadi sumber energi dalam trimester awal kehamilan saya. Akhirnya, tanpa diet ketat, habis pula lemak-lemak ini.

Lalu, apakah saya tidak bisa makan sama sekali? Oh, tentu tidak. Entah mengapa saya tetap bisa jika itu makan di luar. Maka, kami pun jadi sering berkunjung ke restoran Indonesia di Den Haag. Tapi, itu pun porsinya menjadi jauh-jauh berkurang. Nafsu makan saya berkurang drastis. Jika Anda mengenal saya dan tau seberapa banyak saya makan, maka Anda tidak akan percaya bahwa saya bisa makan hanya dengan porsi sesedikit itu.

Lalu, bagaimana dengan makan sehari-hari? Yang saya bisa makan adalah telor dadar. Jadi, saya makan telor dadar dengan memaksakan makan nasi meski sedikit. Seringnya sih abis itu saya muntah, tapi yang penting ada yang masuk dulu. Atau, kalo tidak, saya bikin bubur. Pilihan lain adalah saya makan kentang rebus, atau juga mashed potato, atau olahan pasta. Tak jarang pizza, es krim, cokelat juga masuk ke dalam daftar makanan saya.

Terdengar tidak sehat? Kasian bayinya. Oh yeah, silakan Anda marahi saya. Terserah. Tapi, saya ingat kata bidan saya ketika mendengar keluhan saya ini. Makan apa saja, asalkan ada yang masuk ke dalam perut. Lalu, juga berdasarkan buku yang saya baca pun mengatakan hal yang sama. Makan apa pun, bahkan pizza sisa semalam pun silakan dimakan. Apa pun yang membuat perut Anda nyaman. Percayalah, ini tidak akan berlangsung terus menerus, dan Anda akan memiliki berbulan-bulan lain untuk memakan makanan sehat. Kurang lebih, begitu lah kata di buku. Maka, saya pun mengikuti saran tersebut. Makan apa pun yang membuat perut saya tetap terisi dan tetap nyaman. Saya tidak mau memaksakan makanan sehat tapi pada akhirnya hanya berakhir di lubang toilet saja. Sungguh, memuntahkan makanan rata-rata 5 kali sehari itu benar-benar tidak enak. Saya merasakannya sendiri.

Sebagai penyeimbang, karena saya tidak bisa pula makan sayur, saya mengkonsumsi buah setiap hari. Untungnya saya masih bisa makan buah. Meski buahnya tidak seberagam di Indonesia, tapi paling tidak saya masih bisa lah makan mangga, pisang, melon, dan kurma. Saya juga mengkonsumsi asam folat dan vitamin D setiap harinya.

See, kebayang kan ga enaknya kehamilan trimester pertama saya seperti apa? Muntah rata-rata 5 kali tiap hari (kadang 3 kali, kadang juga lebih). Makan sebisanya saja. Dan, katanya itu hanya berlangsung hingga minggu ke 12 saja atau 3 bulan. Lagi-lagi, ini tidak terjadi pada saya. Saya mengalamai all day sickness ini hingga minggu ke 18. Di minggu 16 sudah berangsur-angsur berkurang, tapi baru benar-benar hilang di minggu ke-18. Lebih dari 4 bulan.

Saat itu, saya merasa seperti stress. Tidak bisa makan, mau gerak juga lemas, tekanan darah turun. Masa-masa paling tidak enak. Saya sangat berterimakasih kepada suami saya, yang rela beresin dapur, masak, belanja, di tengah kesibukan kuliahnya, karena saya tidak bisa berbuat banyak.

Dan, saat itu saya berpikir, kenapa orang bisa merasa bahagia ketika dia hamil?

Dan jawabannya pun saya temukan di trimester akhir kehamilan saya.


Di trimester akhir kehamilan

Perut semakin besar. Badan semakin berat. Bahkan, mau tidur pun susah. Tidur tidak tenang. Bawaannya lapar terus. Jalan udah susah. Jadi pelupa. Tapi, akhirnya saya menemukan jawaban dari pertanyaan saya di trimester awal kehamilan, “kenapa orang bisa merasa bahagia ketika dia hamil?”

Oh yeah, singkat kata, karena semua terasa semakin nyata. Separuh dirimu dan separuh pasanganmu menjadi kian terasa hidup di dalam perutmu. Merasakan tendangan-tendangan kecilnya, merasakan dia seolah berputar-putar di dalam perutmu, perutmu kadang benjol di kanan, benjol di kiri, entah kenapa, itu semua akan membuatmu bahagia. Itu membuat saya bahagia.

Mencintai bahkan jauh sebelum kita melihat dirinya. Yes, akhirnya saya percaya akan hal ini. Tiap malam, ada waktu dimana saya habiskan hanya dengan melihat perut saya sendiri, mengelus-ngelusnya, merasakan gerakannya, tertawa sendiri, membayangkan bagaimana bentuk mukanya, akan mirip dengan siapa, dan, itu membuat saya senang.

Ketika membuka lemari, melihat baju-bajunya yang telah saya siapkan untuknya, celana-celana berukuran mini, membayangkan si buah hati menggunakannya, entah kebesaran entah kekecilan. Bagaimanapun bentuk rupanya, yang jelas, saya pasti akan menyayanginya dengan sepenuh hati. Karena bagaimanapun, dia adalah bagian dari darah dan daging saya sendiri.


Penutup

Ya, begitulah bagaimana cinta dan sinar pada ibu hamil muncul. Waktunya bisa berbeda bagi setiap orang. Tidak semerta-merta muncul di awal kehamilan (kecuali bagi mereka yang memang sudah sangat mendamba keturunan), tapi membutuhkan cukup waktu untuk menumbuhkannya.

Melihat dia dimulai hanya dari setitik hitam yang berdetak, menjadi sedikit berbentuk, menjadi cukup terbentuk dengan organ yang lengkap, perut yang mulanya rata semakin lama kemudian semakin membesar, perlahan merasakan dia bergerak di dalam perut, dari yang samar-samar kemudian pergerakannya menjadi sungguh nyata di dalam perut. Merasakan proses kehidupan dia yang memiliki separuh dari dirimu. Mungkin itu lah yang membuat ibu hamil menjadi penuh sinar dan cinta.

Happy pregnant to all pregnant woman! 🙂

Tamat.


Delft,
In the first Saturday in winter. In the sunny day. 63 days to go, waiting for the winter baby.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s