Riomaggiore

RIOMAGGIORE

24 Mei 2016, malam hari.

Nafas kami terengah-engah berlari-lari keluar dari Stasiun Riomaggiore menuju Via Colombo tempat hostel kami berada ketika kami harus mengejar waktu sebelum pukul 20.30 untuk tiba di hostel yang menjadi tujuan kami, karena kantor hostel kami hanya buka hingga pukul 20.30. Tapi, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 lewat. Ya sudahlah, berdoa saja semoga kantornya masih buka.

Sempat salah jalan, masuk-masuk ke dalam gang-gang sempit dan gelap, akhirnya kami temukan juga Via Colombo 25, alamat Sul Porto yang diberikan di invoice kami dari hostelworld.com. Bentuknya rumah biasa. Sederhana. Sempat ragu apakah itu hostel yang dimaksud, akhirnya kami mencoba masuk ke dalam. Waktu menunjukkan pukul 20.45. Ternyata ini benar kantor hostel yang kami. Jangan bayangkan kantornya sebagaimana lobi hotel pada umumnya. Kantornya hanya terdiri atas ruangan sederhana berukuran 3×4 atau bahkan lebih kecil, kemudian hanya ada seorang bapak-bapak duduk di meja kerja yang di atas mejanya hanya ada seperangkat computer sederhana dengan tumpukan dokumen seadanya.

“Sul porto hotel?” saya bertanya. Ternyata benar. Untungnya kantornya masih buka. Kemudian, saya ditanya, reservasi atas nama siapa, karena dia hendak mengecek. Jangan berharap pengecekan nama reservasi dilakukan di depan computer sebagaimana penginapan biasanya, kali ini, pengecekan nama dilakukan di selembar kertas, berisi daftar nama. Sebagian besar sudah dicoret, mungkin yang sudah check in. Nama saya ada di kertas tersebut, dengan beberapa ejaan yang salah, tapi saya masih mengenali, maksudnya itu adalah nama saya. Setelah menunjukkan passport dan membayar lunas biaya penginapan, kami pun langsung diajak keluar kantor, menuju kamar.

Saya memang sudah mengetahui bahwa kantor dan kamar-kamar hostel ini terletak di gedung yang berbeda. Sebelum kami keluar kantor, kami disuruh tunggu sebentar. Si bapak ternyata beberes kantornya terlebih dahulu. Membawa beberapa perlengkapan, entah perlengkapan apa. Kemudian si bapak menutup dan mengunci pintu dan jendela.

Kami pun diajak menaiki tangga. Si bapak di depan menunjuk jalan. Saat itu kira-kira pukul 21.00 atau mungkin lewat. Hari sudah memasuki senja. Letak Italia memang lebih timur dari Belanda, jadi wajar jam segitu senja sudah datang. Di menit pertama, kami masih bernapas normal, namun, di menit-menit selanjutnya napas kami semakin lama semakin habis. Tangga terjal seolah tidak tamat kami tapaki. Si bapak terus saja berjalan. Saya pun berusaha bernapas, mengumpulkan kekuatan, menguatkan kaki. Baru saya sadari, sedari tadi kami berdua selalu lari-lari. Lari-lari mengejar shuttle bus dari Bandara Pisa, lari-lari mengejar kereta menuju La Spezia, lari-lari mengejar kereta menuju Riomaggiore, kemudian lari-lari keluar dari Stasiun Riomaggiore. Wajar napas kami sudah tersengal. Energi sudah terkuras. Tapi tangga ini belum berakhir. Kami masih terus naik, naik, dan naik.

Hingga akhirnya kami tiba di jalan aspal cukup besar. Sudah habis tangga kami disitu. Di sebelah kanan, terdapat restoran cukup besar. Cukup ramai juga. Saya pikir perjalanan sudah selesai. Kamar kami mungkin terletak di beberapa rumah yang ada di pinggir jalan itu. Kemudian, si bapak berhenti di salah satu pagar besi yang tertutup. Di dalamnya terdapat rumah-rumah. Alhamdulillah pikir saya. Akhirnya tiba juga. Kami pun diberi tahu kode pagar tersebut. Ternyata, kami salah. Itu hanya pagar penyambut saja sodara-sodara, karena ternyata kami masih harus menanjak lagi menuju kamar. Di dalam pagar tersebut terdapat beberapa blok rumah. Letak rumahnya bersusun-susun menanjak menyesuaikan kontur bukit yang miring. Ada beberapa tangga untuk menghubungkan blok rumah di atas dengan blok rumah di bawah.

Tangga pun sudah habis. Kami sudah tiba di atas bukit. Ada satu rumah disitu. Itulah kamar hostel kami. Si bapak membuka pintu, dan ternyata kami masih harus naik tangga lagi. Alamak. Mengapa harus di lantai dua kamarnya? L Tak apalah. Untungnya, kamar kami cukup cantik. Tidak terlalu besar, dengan satu kasur ukuran double bed dan jendela besar, komplit dilengkapi pemanas, kaca rias, dan lemari baju. Selimut, handuk, sabun, dan sampo lengkap juga tersedia. Akhirnya perjalanan panjang kami pun selesai. Kami pun segera beristirahat.

Dasarnya kami ngga mau rugi, meski lelah namun kami setelah istirahat sebentar, kami pun tetap turun lagi, berkeliling melihat suasana malam di Riomaggiore. Terdapat beberapa toko-toko kecil, namun kebanyakan sudah tutup. Secara umum, suasana kota nya sudah sepi. Penduduk asli sepertinya sudah di rumah. Yang masih buka hanyalah restoran-restoran penjual pizza yang kebanyakan diisi oleh turis. Beberapa dari mereka adalah orang-orang Asia juga, seperti kami. Kami pun memutuskan untuk membeli satu kotak pizza ukuran besar untuk dibawa pulang. Separuhnya untuk kami makan sebagai makan malam, sisanya kami makan sebagai sarapan, karena di hostel ini kami tidak disediakan breakfast.

Oiya, Penasaran dimana letak kamar hostel kami? Ini saya berikan gambarannya dari Google Earth.

Zoom out lokasi

Peta Lokasi Hostel


25 Mei 2016, pagi hari.

Pukul 07.00 kami sudah siap. Siap untuk berkeliling 4 desa lainnya. Awan masih cukup tebal menutupi langit pagi saat itu. Masih terlalu pagi mungkin. Tapi pemandangan birunya laut yang beradu dengan bukit hijau sudah bisa kami lihat ketika perjalanan kami turun.

1-DSC02844

Selamat pagi, Riomaggiore

Toko-toko kebanyakan masih tutup. Masih sepi sekali Riomaggiore pagi itu. Yang ramai hanyalah anak-anak kecil yang sedang siap-siap berangkat sekolah. Sebelum memulai berkeliling ke 4 desa lainnya, pertama-tama kami mengelilingi Riomaggiore terlebih dahulu. Riomaggiore ini tidak terlalu luas. Hanya desa kecil, yang titik utama kehidupannya adalah di Via Colombo.

2-DSC02848

Suasana Riomaggiore di Pagi Hari

Perjalanan kami kali ini menuju ke bawah, ke pantai. Saya sebenarnya ragu apakah bisa disebut pantai atau tidak, yang jelas, kali ini kami sedang menuju ke bagian laut dari Riomaggiore ini. Mencari spot foto cantik yang kami temukan di Google ketika mengetik kata “Riomaggiore” sebagai kata kuncinya.

Well, selama perjalanan kami mengeksplor desa Riomaggiore ini, menurut saya desa ini cukup otentik. Rumah-rumahnya khas, saya baru melihat pemandangan rumah-rumah seperti ini ya hanya ketika disini. Gang-gang kecil, rumah bersusun-susun padat, bertingkat-tingkat mengikuti kondisi topografi alaminya. Catnya berwarna-warni. Sekilas saya teringat dengan rumah-rumah padat penduduk yang ada di Jakarta, hanya saja tetap berbeda karena ini versi cantiknya, versi bersihnya. Tidak ada bau got menyengat, becek-becek lumpur. Semua bersih. Rumahnya pun warna warni. Di pinggir lautnya, terdapat beberapa perahu-perahu kecil, sepertinya milik warga sekitar. Entah disewakan untuk turis, atau digunakan untuk keperluan lain, saya kurang paham.

Overall, menurut saya desa ini unik. Untuk menemukan keunikannya, desa ini harus dilihat secara keseluruhan, bukan hanya pemandangan lautnya saja, bukan juga hanya dari pemandangan bukitnya. Tapi, keseluruhan. Rumah-rumah warna-warni dibangun di bukit-bukit yang memiliki pemandangan laut lepas. Menarik.

Dan terakhir, kami mencari spot yang biasa ada di Google. Hasilnya? Yaa, lumayan lah.

Google: (https://wall.alphacoders.com/by_sub_category.php?id=211639)

8-525315

Realita:

8-DSC02869

Selepas dari sini, kami pun segera melanjutkan perjalanan. Menuju Monterosso Al Mare. Rencananya sih ingin trekkning. Realitanya? Lihat saja nanti di cerita selanjutnya yaa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s