Menuju Cinque Terre

Hari itu adalah hari Selasa tanggal 24 Mei 2016 pukul 17.30 CEST.

Cahaya matahari menyapa kami begitu pesawat kami mendarat di Pisa, Italia. Hari itu adalah musim semi, dan matahari di Italia cukup cerah, berbeda dengan langit Belanda yang sudah dua minggu lamanya selalu kelabu. Penerbangan kami mengalami keterlambatan kira-kira hingga 1,5 jam lamanya. Seharusnya kami sudah tiba di Pisa dari pukul 15.30. Tapi, ya sudah lah, yang penting kami sudah tiba di Pisa dengan selamat.


Seperti apa Cinque Terre?

Cinque Terre, 5 desa yaitu Monterosso Al Mare, Vernazza, Corniglia, Manarola, dan Riomaggiore, yang termasuk ke dalam wilayah Liguria, Italia, menjadi tujuan pertama kami untuk berjalan-jalan di Italia ini. Kami mengetahui Cinque Terre dari seorang teman, katanya desanya cantik.

Pemandangan utama dari Cinque Terre adalah kombinasi antara pemandangan laut lepas, bukit-bukit tinggi, serta rumah-rumah warna-warni khas Italia. Cukup menarik.

Menikmati dengan naik kereta

Untuk mengunjungi kelima desa Cinque Terre, terdapat dua pilihan, yaitu dengan menggunakan kereta atau pun dengan menyusuri jalur trekking yang sudah tersedia. Untuk jalur kereta, biayanya €4,- per orang sekali jalan. Naik kereta ini direkomendasikan terutama buat teman-teman yang memang ga terlalu suka trekking. Rel keretanya sendiri berada persis sejajar dengan coastline. Meskipun begitu, di sepanjang perjalanan kita ga akan sering melihat pemandangan laut, karena rel keretanya sendiri kebanyakan berada di dalam terowongan. Wajar sih, mengingat sebagian besar wilayah Cinque Terre berada di bukit-bukit.

Bisa juga dengan trekking

Bagi yang suka olahraga-olahraga dikit, kelima desa bisa dikunjungi dengan memanfaatkan jalur trekking yang tersedia. Tapi, untuk masuk jalur trekking ini ga gratis, tapi dikenakan biaya sebesar €7.5,- per orang. Selain itu, jalur yang tersedia hanyalah jalur Monterosso Al Mare-Vernazza dan Vernazza-Corniglia. Adapun jalur Corniglia-Manarola dan Manarola-Riomaggiore, yang mana pemandangannya yang paling indah karena persis sejajar dengan coastline, ditutup. Tapi, kalo tetap mau trekking di jalur Corniglia-Manarola dan Manarola-Riomaggiore bisa, tapi menggunakan jalur lain, yang katanya sih lebih direkomendasikan untuk para pendaki berpengalaman dan well-equipped.

Tapi, trekking dari Montersso-Vernazza dan Vernazza-Corniglia juga seru kok. Saya mencoba jalur trekking Vernazza-Corniglia. Pemandangannya cantik sekali, karena kita bisa melihat rumah-rumah warna warni, laut lepas, dan bukit-bukit dari ketinggian. Harus dicoba deh, soalnya jarang-jarang bisa ngeliat yang kaya gitu. Apalagi buat temen-temen yang hobi trekking.

Kelebihan menuju kelima desanya dengan trekking adalah, selain kamu mendapatkan pemandangan cantik di tiap-tiap kotanya, kamu dapat pemandangan lebih di perjalanannya itu sendiri, karena di trekking kan bisa banyak yang dilihat. Kekurangan dari trekking ini adalah, yaa capek.

Berapa lama menginap?

Kalo saya, memilih untuk stay 3 hari 2 malam di Cinque Terre ini. Kenapa? Biar bisa istirahat cukup dan biar bisa menikmati semuanya dengan tenang. Di hari pertama saya datang, itu sudah sore sekali, hanya bisa menikmati suasana di malam hari. Lalu di hari kedua saya dedikasikan untuk seharian penuh berkeliling ke 5 desa. Malamnya saya memilih menginap lagi untuk istirahat, kemudian keesokan paginya baru deh check out.

Icip-icip

Pertama kali yang ada di otak saya kalo sebut Italia adalah spaghetti, karena memang Italia ini terkenal sama pasta-pastanya. Nah, selama saya di Cinque Terre saya ga sempet sih icip2 spaghetti. Tapi, ada lagi yang lebih menarik, yaitu icip gelato, semacam es krim gitu tapi menurut saya rasanya lebih strong dan lebih pekat. Selain itu juga, saya icip Juice Lemon karena di Cinque Terre ini khasnya lemon. Dan terakhir, saya icip pizza juga. Beda sih rasanya sama yang di Indonesia. Kalo yang disini, rotinya lebih tipis dan lebih keras. Tapi, sama-sama enak sih, soalnya di lidah saya cuma ada enak sama enak banget. Gimana doong.


Bagaimana menuju Cinque Terre dari Pisa?

Bandara terdekat untuk mencapai Cinque Terre adalah Pisa International Airport. Dari bandara ini kemudian kami naik bus shuttle PISAMOVER yang menghubungkan Bandara-Pisa Central Station (Stasiun Pisa Central). Tiket PISAMOVER bisa dibeli di loket di dalam bandara seharga €1.3 per orang. Keluar dari pintu kedatangan, Anda bisa langsung belok kanan. Dari Pisa Central Station ini kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kereta menuju desa tempat kami menginap yaitu Riomaggiore.

Tiket Pisamover

Tiket Pisa Mover


Dimanakah kami menginap?

Kami menginap di Riomaggiore, dengan alasan bahwa dari hasil pencarian kami di Riomaggiore lah kota yang banyak menyediakan hostel-hostel yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kami. Adapun di Manarola, Corniglia, pilihannya tidak terlalu banyak. Sementara di Monterosso ada, tapi agak mahal, tidak sesuai budget.

Hostel tempat kami menginap bernama Sul Porto Hotel. Kami memilih kamar tipe private room shared bathroom dengan alasan ingin yang lebih nyaman aja. Lagian, kalo dipikir-pikir, kalo kami ambil yang tipe shared room (sekamar rame-rame), kami harus bayar untuk 2 bed, kalo private room kan kami cukup bayar satu kamar aja, hehehe. Harganya mungkin agak mahal sedikit, tapi di private room kami bisa beristirahat dengan lebih nyaman. Harganya untuk semalam dengan tipe ini adalah €70 per malam.

Satu hal penting yang perlu dicatat untuk teman-teman yang menginap di Cinque Terre, perhatikan batas jam untuk check in! Tidak seperti hotel-hotel di kota-kota lain di beberapa negara dimana petugas lobby stand by sepanjang hari dan sepanjang malam, di Cinque Terre hotel hanya menerima tamu untuk check in hingga batas waktu tertentu, setelah itu Anda baru bisa check in di keesokan paginya. Untuk di Sul Porto Hotel, tertulis batas check in jam 20.00, kantor buka hingga 20.30. Kami tiba di kantor hotel pukul 20.45, untungnya petugasnya masih stand by, tapi setelah melayani kami berdua, kantornya tutup.

Hal lain yang cukup berbeda dari hostel ini adalah, kantor dan kamar kami berbeda gedung. Kantornya berada di lokasi yang sangat strategis, hanya sekitar 5 menit berjalan kaki dari Stasiun Riomaggiore, namun kamar kami berada di atas bukit di Riomaggiore. Seriusan. Kami butuh menapaki berpuluh-puluh anak tangga untuk sampai di kamar kami. Tapi, secara keseluruhan, kamarnya bersih, kamar mandinya pun bersih, tersedia handuk, sabun, sampo, hair dryer. Sayangnya, mereka tidak menyediakan sarapan.


Oke, itu dulu tulisan pembuka dari saya tentang Cinque Terre. Bagaimana hasil eksplorasi saya di Cinque Terre? Tunggu kelanjutan kisahnya di cerita selanjutnya yaa. Sebagai bonus, ini saya berikan gambar Riomaggiore, di malam dan di pagi hari.

20160524_220443

20160525_072520

 

Advertisements

One thought on “Menuju Cinque Terre

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s