Apa yang Berbeda di Italia?

Setelah membahas overall perjalanan saya dan suami, maka di tulisan ini saya ingin berbagi cerita tentang hasil pengamatan tentang kondisi-kondisi di Italia.

Italia adalah negara yang cukup berbeda dibanding beberapa negara yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Perbedaan ini, menurut saya, utamanya diakibatkan dari kondisi geografis Italia sendiri yang berada di balik Pegunungan Alpen, di sisi selatan Eropa, dan menghadap ke Lautan Mediterania.


Cuaca

Musim semi di Belanda tidak seperti musim semi yang saya bayangkan. Karena di musim semi Belanda, cuaca tetap dingin, awan-awan tebal, dan kadang diselingi hujan rintik-rintik. Naah, cuaca berbeda saya temui di Italia. Ketika pesawat mendarat, cuaca sangat bersahabat. Langit cerah dengan sedikit awan, hawanya pun tidak dingin, berkisar di 20an derajat celcius. Benar-benar terasa musim semi.

Mengapa bisa begitu? Padahal sama-sama di benua eropa? Kalo dari penjelasan suami saya, udara dingin yang mengalir di bagian utara eropa itu tidak bisa mengalir menembus tingginya Pegunungan Alpen, sehingga udara tersebut hanya akan berputar-putar di utara saja. Makanya, wajar ketika kami berdua sudah menyeberangi Pegunungan Alpen, cuaca bisa berubah 180 derajat. Mmm, kalo dipikir-pikir ya bener juga sih.


Pemandangan Alam yang Ditawarkan dan Bentuk-Bentuk Rumah

Kalo di Belanda, titik tertinggi yang pernah saya lihat hanyalah gundukan Sanddune yang ada di pinggir laut North Sea di Scheveningen sana. Kalo di Italia ini, pemandangannya macam-macam. Dari sepanjang rel, bisa terlihat tuh rangkaian bukit-bukit membentang sepanjang jalan. Kemudian tak jarang, terutama ketika naik kereta di Cinque Terre, keretanya berada di terowongan menembus gunung-gunung. Ketika di Florence, dari Piazzale Michelangelo kami bisa lihat pemandangan cantik Kota Florence dari ketinggian. Dari situ, ga cuma pemandangan kota aja, tapi juga ada bukit-bukit yang berbaris bersusun-susun di belakang Kota Florence ini.

Selain kondisi topografi, bentuk-bentuk rumahnya pun sudah berbeda. Kalo di Belanda, atap-atap rumahnya cenderung tidak terlalu miring atau bahkan datar sama sekali. Kalau di Italia, atapnya runcing-runcing seperti di Indonesia. Rumah-rumahnya berwarna-warni, bersusun-susun rapat tingkat memanjang ke atas. Unik.


Orangnya Santai

Saya agak ragu sih mau menuliskannya seperti apa, tapi menurut saya disini orang-orang memulai hari di jam yang lebih siang dan mengakhiri hari di jam yang lebih cepat dibanding ketika saya di Prancis maupun di Swiss. Contohnya adalah, ketika kami check in di Cinque Terre, di lembar bookingan kami tertulis kantor hostelnya hanya buka hingga pukul 8.30 pm, penginap yang datang lewat di jam tersebut tidak akan dilayani. Karena pesawat kami delay, kami baru tiba di sekitar pukul 9 pm kurang sedikit, untungnya kantornya belum tutup, tapi bener loh, setelah melayani kami, kira-kira di pukul 9 pm, petugasnya beberes-beres dan kantornya pun tutup. Kebetulan memang di Cinque Terre tempat kami menginap, kantor dan kamarnya berbeda gedung. Berbeda ketika kami ke Paris, dateng jam setengah 1 pagi aja petugasnya masih stand by. Haha.

Begitu pula ketika kami mau check out. Kami tidak perlu datang ke kantornya untuk check out. Hanya cukup meninggalkan kuncinya menggantung di pintu saja. Kalo memang mau ke kantornya sih boleh ya, tapi mereka baru buka nya jam 10 pagi. Hahahahaa. Hal yang sama juga terjadi ketika kami menginap di Florence. Kantornya tutup jam 8 malam dan baru buka lagi jam 10 pagi.

Tidak hanya resepsionis hotel, di Cinque Terre loket stasiun pun baru buka jam 8 pagi. Lalu, bagaimana jika ingin membeli tiket untuk keberangkatan sebelum jam 8? Berterimakasih lah kepada teknologi, karena sebenarnya semua sudah bisa dilakukan otomatis, termasuk membeli tiket. Jadi, mau naik kereta jam berapa aja, ada mesin penjual tiket yang siap melayani Anda. Menarik juga sih. Pantesan petugasnya juga ga terlalu banyak, Cuma 1 orang aja dan Cuma 1 loket. Tapi, kebayang ga sih kalo ini diterapin di Indonesia? Berapa banyak tenaga kerja yang harus dirumahkan kalo system otomatis ini diterapkan? Hmmm, mungkin perlu dikaji terlebih dahulu.


Banyak Bercerita

Satu hal yang unik yang saya amati dan terlihat menarik ketika di Italia adalah, orang-orangnya yang suka sekali mengobrol apa pun kondisinya, mereka seperti tidak mau kehilangan momen untuk bercerita, termasuk ketika melayani pelanggan. Misal begini, ini kejadian yang saya alami ketika di Cinque Terre. Saya masuk toko pizza untuk beli pizza. Untuk memesan, kami diarahkan pelayan di depan pintu agar langsung memesan di kasir. Kami pun menuju ke meja kasir. Disitu, terlihat ada 2 orang penjualnya sedang ngobrol seru sekali. Beberapa kali suami saya ucapkan, “excuse me” mereka tidak menoleh, terusss saja saling bercerita. Kami bingung. Beneran deh. Berasa dicuekin. Bingung kaan gimana sih mau mesen malah dicuekin. Kami menunggu beberapa menit, dan bener dong, ketika cerita mereka selesai, mereka baru menoleh kepada kami dan melayani kami. Hahaha. Oh my God.

Itu saya alami beberapa kali di tempat yang berbeda tapi masih di Cinque Terre. Pernah, ketika mau membayar, si kasir sudah focus nih sama saya, hingga ketika teman dia berbicara entah apa, dia pun langsung menyahut dong, kemudian melanjutkan pembicaraan, untungnya sih saya tidak dicuekin. Tetap dilayani sembari dia berbicara dengan temennya. Hadeuh.

Selain doyan berbincang dengan sesama Italia, mereka juga senang ngobrol dengan pengunjung. Di Cinque Terre menurut saya orang-orangnya cukup fasih berbahasa inggris. Mungkin karena memang banyak turis dari berbagai belahan dunia datang kesini. Seperti halnya ketika saya membeli jus lemon. Sambil melayani saya, dia sambil bercerita tentang asal usul lemon tersebut. Begitu pula kepada pengunjung-pengunjung lainnya.

Satu hal yang menarik bagi saya adalah logat orang Italia ketika berbicara. Mengalun-ngalun gitu. Apalagi ketika mendengarkan mereka berbicara di kereta. Unik aja dengernya. Selain itu, orang-orang di Italy overall sih ramah-ramah, meskipun hati-hati, banyak pencopet.


Perawakan Orang-orangnya

Bule-bule Italia agak berbeda dengan bule-bule Belanda yang hampir setiap hari saya lihat. Kebanyakan dari mereka rambutnya cokelat-cokelat tua gitu, beda dengan Belanda yang kebanyakan cokelat muda bahkan pirang-pirang emas gitu. Selain itu, dari segi postur entah kenapa menurut saya lebih kecil dibanding bule-bule Belanda. Apalagi cewe-cewenya. Kalo di Belanda cewe-cewenya banyaknya tinggi, tegap gitu, kalo disini, tingginya rata-rata 160an lah menurut saya. Yang cowo-cowonya juga, tidak terlalu tinggi seperti di Belanda, tapi ya ga kecil juga sih.


Well, itu sih beberapa hasil pengamatan selama di Italia. Unik dan seru, agak berbeda dibanding perjalanan-perjalanan sebelumnya. Untuk detailnya, bisa ditunggu yaa dicerita selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s