Cabe di Kancah Internasional (baca: di Belanda)

Hari ke 94 saya disini, Tanggal 30 Mei 2016.

Sembari menanti mood saya untuk menulis perjalanan saya ketika kemarin ke Italy, maka mari lah kita buka tema yang lain, yaitu ketika tentang cabe. Pada awalnya saya malas sih untuk membahas hal-hal yang seperti ini di blog, karena kadang saya inginnya membahas sesuatu hal yang agak berat gitu ya, seperti membahas hubungan Indonesia dengan Belanda, kondisi negara kita dibandingkan dengan negara maju, dan sejenisnya, tapi kok kayanya saya jauh dari kata kapabel untuk membahas hal itu juga. Lagian, hal-hal remeh seperti cabai ini pun tidak bisa dianggap sepele kan? Kenapa? Karena bahkan ketika harga cabai naik, itu bisa mempengaruhi perekonomian nasional.

Oke, lupakan lah tentang perekonomian nasional maupun indonesia di mata dunia, dan hal lain yang sejenis. Kali ini, saya ingin membahas tentang eksistensi cabai di kancah dunia internasional. Agak berlebihan sih judulnya. Oke, dikoreksi sedikit, menjadi eksistensi cabai di Belanda.

Meskipun di atas saya cerita bahwa saya malas untuk membahas hal ini, well, sebenernya saya ingin juga membahas hal ini di blog saya. Kenapa? Karena target utama pembaca blog saya ini adalah untuk mereka yang merupakan istri pelajar Indonesia seperti saya, yang tinggal di Belanda mengikuti suaminya. Terutama mereka yang awam seperti saya. Definisi awam ini maksudnya adalah mereka yang tidak terbiasa berada di luar negeri (seperti saya yang pertama ke luar negeri nya itu ya pas ke Belanda ini), yang mana, kepada mereka lah saya bisa berbagi informasi tentang menjalani kehidupan di Belanda, terutama di Kota Delft.

Kali ini yang akan saya bahas adalah salah satu kebutuhan primer manusia, yaitu pangan. Sebagaimana yang telah kita pahami bersama, orang-orang Eropa, termasuk Belanda, memiliki cita rasa masakan dan jenis makanan yang berbeda dengan kita. Salah satu perbedaannya adalah mereka tidak terbiasa dengan makan nasi maupun makanan yang pedas-pedas. Mungkin hal tersebut lah yang melatarbelakangi kondisi yang saya alami saat ini, yaitu: susahnya mencari cabe keriting.

Harus dibold banget yaa. Iya dong, soalnya itu lah yang menjadi cerita saya kali ini.


Informasi awal : Cabe ada di Belanda

Saya bukan orang yang hobi masak, meskipun ibu saya sangat hobi memasak. Tapi skill masak saya ga jelek-jelek amat sih, bukan yang bener-bener ga bisa. Yah, 7 skala 10 lah. Dulu di Indonesia, saya suka sekali sama yang namanya olahan cabe-cabean ini. Tempe penyet, terong balado,  telor balado, kerang balado, dan balado-balado lainnya. Alasannya simpel, karena masaknya sangat sederhana. Yang dibutuhkan hanya cabe keriting, bawang merah, dan bawang putih, beri garam, ulek, tumis, selesai. Menurut saya, itu masakan yang paling bisa saya buat dengan baik.

Nah, ketika hendak berangkat ke Belanda, sebenarnya dari awal saya sudah berniat untuk membawa si cabe keriting ini. Tapi, kata suami saya, disini ada cabe kok, ga usah dibawa, nanti malah tambah berat (secara saya sudah membawa bawang merah, bawang putih, dan tempe lengkap dengan ulekan, sebagai persiapan bikin tempe penyet). Oke, saya percaya. Asumsi awal saya adalah, berarti disana ada cabe keriting.


Kondisi sebenarnya : Ada sih cabe, tapi ternyata bukan cabe keriting, tapi cabe langsing

Yaa, benar. Di Belanda ini memang ada cabe, tapi ternyata bukan cabe keriting kurus-kurus panjang-panjang sebagaimana yang biasa saya temukan di Indonesia, tapi bentuknya agak pendek dan gemuk, mirip seperti cabe rawit versi langsing. Nah lo. Serius ini. Saya aja bingung, ini bisa ga sih dipake buat masak balado-baladoan kaya di Indonesia?

Ekspektasi (kiri) dan Realita (kanan)


Apakah berbeda jauh?

Well, saya akan cerita beberapa perbedaannya.

Pertama adalah, cabe langsing ini susah diulek. Hari gini masih ngulek? Plis deh ada blender kaleee. Iyee, saya masih doyan ngulek, masalah buat loo? Hahaha. Dari saya masih tinggal di Indonesia pun, meskipun ada blender, entah kenapa saya suka aja ngulek. Kenapa ya? Mungkin karena sembari bumbunya dihaluskan, kita tetap terus bisa icip-icip apakah komposisi bahannya sudah pas apa belum. Kalo menggunakan blender, saya ga bisa dapet fungsi ini. Kalo di Belanda, ya karena ga ada blender, dan emang ga mau beli juga (bukan pelit, beasiswa terbatas cuy), dan emang suka bikin-bikin olahan cabe, makanya mau ga mau ya ngulek.

Kenapa susah diulek? Cabe langsing ini susah diulek karena berdasarkan pengamatan saya, cabe ini tekstur kulitnya agak tebal, mirip-mirip kaya cabai besar yang ada di Indonesia. Jadi, biar gampang diulek, yaa harus diiris kecil-kecil dulu. Ribet? Saya sih menikmatinya aja. Namanya juga proses. Lama-lama juga biasa.

Kedua adalah, cabe langsing ini rasanya ga konsisten. Entah apa perasaan saya aja ya. Tapi serius deh, saya selalu beli cabe ini di toko yang sama, tapi rasanya kadang pedess parah, kadang pedes biasa, dan kadang ga pedes sama sekali. Hal ini cukup menyulitkan ketika menakar cabe pas masak, karena dengan jumlah cabe yang sama belum tentu menghasilkan tingkat pedas yang sama juga. Solusinya gimana? Kalo saya sih, biasanya ketika selesai cabenya diiris, dibauin gitu deh cabenya, dicium-cium ini kira-kira lagi sepedes apa cabenya. Serius deh.

Ketiga adalah, harga cabe yang kalo dirupiahin waw banget ya bo. Hal utama yang harus kita tanamkan dalam otak kita (terutama istri-istri) ketika tinggal di Belanda -dan mungkin negara Eropa lainnya- adalah harga barang jangan dirupiahin. Bisa stres. Serius saya. Ngga bohong. Harga 100 gram cabe langsing ini adalah €2 , kalo dirupiahin kira-kira Rp 30.000,- . Buset, kebayang ga sih harga nasi padang jadi berapa kalo harga cabe di Indonesia segitu. Cabe 100 gram 30ribu, kalo sekilo jadi 300ribu. Wkwkwk. Dulu di Jakarta, beli cabe 2rb rupiah aja udah bisa buat masak seminggu.


Begitulah kondisi percabean internasional kita. Hahaha. Oiya, kadang kalo udah menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan kurs mata uang seperti contoh harga di atas, kadang suka menjadi terpikir hal-hal yang dulu ga pernah kepikiran di Indonesia, yaitu jadi tersadar kalo ternyata nilai mata uang kita tuh rendah banget ya. Jadi inget, dulu pas suami saya udah mau berangkat ke Belanda, ambil rupiah segepok tebel gede gitu, pas dituker ke euro, jadinya tipis banget. Hahaha.

Udah dulu deh, saya mau masak dulu kalo gitu.

catatan:
Cabe kaya gini juga ga tersedia di semua toko. Cabe kaya gini kalo di Delft cuma bisa ditemukan di Toko Asia atau Toko Turki gitu. Pe er banget ya boo.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s